Universitas swasta yang terletak di Jalan DI Panjaitan ā Jakarta Timur itu berada di antara jalan uatama, satu jalan sekunder, sebuah sungai yang kalau musim banjir pasti meluap, dan rumah2 penduduk yang padat. Dan di antara kepadatan rumah2 penduduk itu terdapat suatu kisah mesum. Kisah ini terjalin antara mahasiswa yang kuliah universitas swasta tersebut dan pemilik kos2an di mana sang mahasiswa tinggal ngekos. Bangunan itu terdiri atas rumah2 petak sebanyak 5 pintu yang masing2 petak terdiri atas 3 ruangan. Di samping rumah2 petak tersebut menempel rumah utama yang merupakan tempat pemilik kos2an tinggal. Nama pemilik kos2an adalah Haji Imron. Biasa dipanggil oleh tetangga dan mahasiswa dengan sebutan Pak Haji. Tempat kos2an dan rumah utama ini di kelilingi oleh pagar besi setinggi 1,5 meter di bagian depan yang memiliki dua pintu masuk dan pagar tembok di tiga sisi lainnya setinggi 3 meter. Halamannnya dihampari oleh konblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Kos2an ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Di sinilah Rizal, mahasiswa di universitas swasta itu tinggal. Sudah 3 bulan ia tinggal di sini. Rizal adalah mahasiswa asal Cikampek, tetapi ia bukanlah asli Cikampek. Haji Imron memiliki 3 orang anak. Satu laki2, dan dua perempuan. Dua anaknya sudah berkeluarga, sedangkan satu lagi yang laki2 masih duduk di kleas 2 SMU. Yang paling menarik hati Rizal adalah Bu Haji. Walau usianya sudah 43 tahun penampilanya masih seperti umur 30-an. Bu Haji selalu ramah pada tetangga maupun mahasiswa2 yang ngekos di rumahnya. Bodynya bongsor, berkulit kuning langsat, dan selalu memakai kerudung. Bila ia keluar dengan mobil Innova-nya ia akan memakai kaca mata hitam sebagai hiasan. Rizal sering mencuri pandang mengamati Bu Haji. Pernah Rizal menggoda Bu Haji ketika Rizal hendak berangkat ke kampus dengan motor Honda nya sedangkan Bu Haji hendak keluar dengan Kijang Innova-nya. āWah, Bu Haji, gayanya seperti cewek2 di kampusku aja nih..,āgoda Rizal āIya dong, Zal. Biarpun udah tua harus tetap jaga penampilan lho...harus semangat seperti anak2 muda,ābalas Bu Haji sambil melemparkan senyumnya. āIya deh, Bu Haji. Saya setuju kok..,āujar Bu Rizal. āSaya duluan ,Bu Haji,āseru Rizal sambil melajukan motornya. Setiap Rizal pulang malam, Rizal sering mengamati Bu Haji nongkrong sendirian di ruang tengah menonton televisi. Bahkan kadang sampai larut malam. Yang paling membuat Rizal kagum sekaligus ngiler adalah ketika suatu sore ia bertamu sekaligus hendak membayar uang kontrakan bulanan. Rizal diterima oleh Bu Haji di ruang tengah yang sejuk dan asri itu. Bu Haji menemuinya dengan celana pendek yang ketat dan kemeja yang longgar. Bu Haji hanya senyum2 saja melihat Rizal yang kikuk dan mata Rizal yang kadang2 melirik ke pahanya. Di dalam rumahnya Bu Haji memang sering memakai celana pendek dan melepaskan kerudungnya. Setelah keluar daru rumah Bu Haji dan sampai di kamarnya sendiri, Rizal membayangkan semua yang baru saja dilihatnya. Paha putih yang gempal dan padat. Sangat mulus, pikir Rizal. Dan Rizal yakin di balik kemeja longgar yang dipakai Bu Haji terdapat kulit yang putih-mulus dan buah dada yang besar. Rizal sering membayangkan bisa menggumuli tubuh Bu Haji yang bongsor dan putih mulus itu. Rizal juga sering membayangkan memek Bu Haji, pasti tebal dan empuk gumamnya dalam hati. Tetapi Rizal lalu tersenyum masem karena tubunya termasuk agak kurus walaupun ia memiliki tinggi 173 cm. Kalau sudah begitu Rizal akan mengusap-usap kontolnya lalu melepaskan pusingnya di kamar mandi. Pak Haji Imron termasuk tuan tanah. Ia memiliki beberapa kos2an dan sejumlah rumah yang dikontrakkan. Semua tersebar di wilayah Jabodetabek. Ia paling sering ke wilayah Depok. Selain mengunjungi anaknya dan rumah kos2an yang pengelolaannya diserahkan pada anaknya juga karena di sebelah kos2an itu terdapat kolam pancing yang yang cukup ramai dikunjungi. Kolam pancing itu juga dikelola oleh anaknya dan menantunya di samping beberapa pembantu. Hampir setiap hari Pak Haji Imron pergi ke Depok. Kalau sudah asyik memancing Pak Haji Imron bisa menginap sampai 3-4 hari. Suatu sore Rizal berjalan ke samping rumah utama yang ditanami beberapa batang pohon jambu Taiwan. Ia bermaksud mengambil beberapa buah jambu Taiwan. Pak Haji dan Bu Haji memang tidak melarang anak2 kosnya mengambil hasil tanaman yang ada di sekitar rumah itu. Karena kadang2 anak2 kos juga ikut membantu mengurusi tanaman2 tersebut. Saat itu beberapa pohon jambu sedang berbuah. Buahnya besar2 dan siap dipanen. Pohon2 itu terletak di antara tembok pagar dan tembok dinding rumah utama. Ketika ia hendak melangkah ke rimbunan pohon jambu, ia melihat daun jendela yang menghadap ke pohon2 jambu itu terbuka. Itu merupakan kamar tidur Pak Haji dan Bu Haji. Ia seketika ragu. Tetapi di benaknya adalah bahwa tadi pagi ia melihat Pak Haji dan Bu Haji keluar rumah memakai Suzuki Escudo. Dan ketika ia terbangun sore ini Suzuki Escudo belum ada di halaman. Ia hendak membatalkan niatnya karena takut jangan2 ketika ia tertidur tadi Pak Haji dan Bu Haji pulang dan Suzuki Escudo mungkin dipinjam seseorang atau salah satu anaknya. Setelah beberpa detik, Rizal memutuskan memeriksa perlahan. Ia berjalan di atas teras keramik samping yang sempit. Dengan ujung matanya ia mencoba meneliti kamar itu. Untunglahā¦,pikirnya. Kamar itu kosong. Lalu Rizal pun melanjutkan niatnya. Ia mengambil beberapa buah jambu. Ketika ia hendak berbalik, Rizal sangat kaget dan pucat. Karena pada saat yang sama ia melihat Bu Haji masuk ke dalam kamar. Bu Haji hanya memakai celana pendek yang sangat ketat. Dan di atasnya, seluruh kancing kemeja Bu Haji belum terpasang sehingga memperlihatkan perut dan pusarnya yang mulus dan putih dan juga BH nya yang membungkus dadanya yang besar. Bu Haji juga kaget dan hampir berteriak. Tetapi ketika menyadari bahwa orang yang ada di samping rumah adalah Rizal ia hanya kaget sebentar saja. Tangannya bergerak mengatupkan kemejanya tanpa memasang kancingnya. āAhā¦kirain tadi siapaā¦Ibu kaget setengah mati,āseru Bu Haji dari dalam kamar. Ia melipat kedua tangan diperutnya sehingga kemejanya tidak terbuka. āMaaf Bu Hajiā¦maafā¦Maaf Bu Hajiā¦tadi saya kira Bu Haji pergi dengan Pak Hajiā¦jadi saya berani ke sini,āRizal berusaha menjelaskan. Ia terlihat kikuk dan agak malu2. āIya sudahā¦kirain siapa..,ākata Bu Haji. Ia tersenyum pada Rizal. āMaaf Bu Hajiā¦,ākata Rizal berjalan menunduk. āPermisi Bu Hajiā¦,ā kata Rizal permisi dan melihat ke Bu Haji sebentar. Bu Haji mengangguk tersenyum. Ketika Rizal melihat Bu Haji sebentar, ia sempat melirik ke dada Bu Haji yang tidak begitu serius menutupi bagian dadanya. Sesampai di kamarnya, Rizal malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan BH Bu Haji. Ia terduduk dalam kasurnya. Memandang langit2 kamarnya. Bayangan Bu Haji yang super seksi tadi memenuhi angannya. Ia menggerakkan tangannya mengusap-usap kontolnya yang seketika menegang keras. Rizal menghempaskan punggunya ke kasur. Menarik tangannya dari selangkangannnya. Ia merenung, jika tadi di belakang Bu Haji muncul Pak Haji, maka ia akan kena tegur. Ketika Rizal masih berusa menenangkan pikirannya tiba2 handphone-nya berbunyi. Rizal mengambil handphone-nya. āHallo..ājawabnya. Tapi diseberang tidak ada jawaban. Panggilan itu terputus. Rizal mengamati nomor āReceived Callsā pada handphonenya. Nomor yang tidak dikenalnya. Ia meletakkan handphone itu. Tetapi ketika teringat dengan seorang cewek yang baru dikenalnya kemarin ia meraih lagi handphone tersebut. Siapa tahu cewek itu, pikir Rizal. Rizal memanggil nomor itu. āHalloā¦,āpanggilnya. āHalloā¦emang kamu gak kuliah..?āseketika Rizal heran. Ada riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara Bu Haji. āEh, Bu Hajiā¦eh..nggak Bu Hajiā¦hari ini saya emang ga ada jadwal kuliahā¦,āujar Rizal dengan suara yang dibuatnya sedemikian rupa. āHhhmm, gimana jambunya? Enak ga?ātanya Bu Haji di seberang. Suaranya terdengar akrab dan manis di telinga Rizal āAh, belum sempat Bu Hajiā¦baru juga mau makanā¦dari bentuk dan warnanya kayaknya enak sih..,ākata Rizal mencoba berakrab-akrab ria. āNtar kalau udah makan bilang ibu iya. Kalau enak Ibu juga mau ambil,ā āIya Bu Hajiā¦,ājawab Rizal. Ketika ia merasa Bu Haji hendak menutup pembicaraan, Rizal buru-buru bertanya.āEhh, hhmmmā¦maaf Bu, Pak Haji kemana? Tadi sepertinya saya lihat bareng Bu Haji keluar,ā āTadi pagi emang keluar bareng Ibu tapi sebentar aja ke salon. Trus pulang. Sekarang bapak ke Depokā¦.,ā kata Bu Haji menjelaskan. āOhh..iya udah deh buā¦maaf tadi ya Bu Hajiā¦saya tidak tahu..,āujar Rizal. āHmmm-hhmm..,āBu Haji tertawa kecil di seberang.āNanti kalau udah dimakan jambunya jangan lupa sms bilang ibu ya. SMS aja enak apa nggak..!ā āIya bu..āujar Rizal. Dan pembicaraan pun selesai. Malamnya jam tujuh setelah makan, Rizal mengambil HP-nya. Ia belum memakan jambunya, tetapi dalam hatinya ia akan mengatakan saja bahwa jambu itu enak. āMalam Bu Hajiā¦jambunya enak,ābegitu is isms Rizal. āBener enak?ābalas sms Bu Haji. āIya Bu. Bener enakā. āKamu lagi ngapain?āsms Bu Haji. āGak lagi ngapain Bu. Tiduran aja,ābalas Rizal sambil heran dgn isi sms Bu Haji. āEmang ga keluar? Mahasiswa kan ngapelnya ga cuma malam mingguābalas Bu Haji lagi. āNggak Bu. Lagi pengen di rumah aja. Maaf, kalau Bu Haji sedang apa?āsms Rizal. āLagi sms an ama kamu..hehe..!ājawab sms Bu Haji. Isi sms ini membuat Rizal senang setengah mati. Ia tersenyun-senyum dalam hati. Rizal agak bingung untum membalas. Ia tidak tahu hendak mengetik apa. Tiba2 sms Bu Haji masuk lagi. āTadi kamu lihat ibu ya..?ā Rizal hampir berteriak senang setengah mati membaca sms ini. Ia membaca sms itu berulang-ulang. Ia berpikir sejenak untuk membalas apa. āHhmm, iya bu. Maafā¦saya tadi tidak sengaja..,āakhirnya hanya itu yang ditulisnya. āGak sengaja tapi dah lihat yaā¦?āsms Bu Haji. Rizal jadi makin semangat. āIya bu. Maafā¦saya ga ingat lagi kok Buā¦tapiā¦,ābalas Rizal. Ia sengaja menggantung sms nya untuk membuat Bu Haji yang sering diidam-idamkanya jadi penasaran. Tetapi setelah Rizal menunggu 5 menit Bu Haji tidak lagi membalas. Ia pun ragu untuk mengirim sms lagi. Ketika ia hendak meletakkan HPnya, Bu Haji menelepon. Rizal bersorak dalam hati. āHalloā¦,āsahut Rizal dengan suara dibuat merdu. āTapi apa, Zal?ātanya Bu Haji pelan. Suaranya agak sengau. āNnngggā¦apa yaā¦? Rizal menyahut dengan canda. āApa..ayo apa..?ādesak Bu Haji dengan nada seperti tertawa. āHhmmā¦tapi aku senang aja melihatnyaā¦,āakhirnya Rizal memberanikan diri. āHhhmmmā¦kamu iniā¦kirain apa tadiā¦emang kamu lihat apa coba..?ātanya Bu Haji. āLihat sesuatuā¦nngggā¦yang pengennya ga cuma dilihatā¦,āRizal makin berani menggoda. āEmang pengennya diapain..?ā āSusah dibilangin dengan kata-kata Buā¦heheā¦,āRizal tertawa renyah.āSusah bilanginnyaā¦tapi kalau tiba2 ada di siniā¦ah..gau taulahā¦,āRizal dengan berani menggoda lebih jauh. āHehehā¦.kamuā¦,āhanya itu ucapan Bu Haji. āIbu lagi di mana?ā Tanya Rizal. āLagi di kamar, kenapa?āTanya Bu Haji. āGaā¦nanya aja kok Bu..!āujar Rizal. āHhhmm..iya udah iya, Zal,ākata Bu Haji menutup pembicaraan. āIya Bu. Met malam..,āsahut Rizal āIya..,ābalas Bu Haji sambil menutup pembicaraan. Dalam kamarnya Rizal tersenyum-senyum senang. Entah kenapa nafsu birahinya timbul. Ia tidur2an di kasurnya sambil senyum-senyum mengingat semua pembicaraan dengan Bu Haji. Lalu dua jam kemudian sms Bu Haji masuk lagi. āNonton MetroTV dehā¦acaranya bagusā¦,ādemikian is isms Bu Haji. Rizal yang memang sedang nonton MetroTV di kamarnya lagsung membalas dengan semangat. āIya. Ini juga lagi nonton MetroTV kok Bu. Bu Haji belum bobo..?ātanya Rizal dalam sms nya. Sengaja ia memilih kata āboboā untuk membuat suasana jadi nyaman. āBelum..kan masih jam 10ā¦,ābalas sms Bu Haji. āMasih di kamar?ā Rizal sengaja menanyakan ini. āIyaā¦,ājawab Bu Haji āDi tempat tidur..?ā tanya Rizl āIyaā¦,ājawab Bu Haji āHehe..sama dongā¦,ābalas Rizal genit. Tetapi Bu Haji tidak lagi membalas. Sekitar jam 12 malam ketika Rizal dilanda kantuk. Bunyi sms masuk ke HP nya. āUdah bobo..?ā itu isi sms Bu Haji āBelumā¦Bu Haji belum bobo..?āRizal membalas āBelum jugaā¦masih nonton..,ā āSama dongā¦āisi sms Rizal. Kembai lagi Bu Haji tidak membalas. Tetapi entah kenapa Rizal mengurungkan niatnya tidur. Entah kenapa ia yakin Bu Haji akan sms lagi. Tetapi kali ini tidak lagi. Sekitar jam setengah satu malam yang ada adalah āmissed callā dari Bu Haji. Rizal menelepon balik. Tapi tidak telepon tidak diangkat. āBelum tidur..?āRizal coba kirim sms. Tetapi setelah menunggu sepuluh menit tidak ada jawaban, Rizal akhirnya meletakkan HPnya. Dan menghempaskan badannya ke kasur. Sekitar jam HP nya berbunyi. Di seberang terdengar suara Bu Haji yang agak sengau dan manja. āLagi ngapain, Zal..?ātanya Bu Haji. Rizal menjawab dengan segenap keyakinan dan keberanian. āBelum bisa tidur Bu. Gara-gara pemandangan tadi siang di kamar Bu Haji,āRizal menahan nafasnya ketika berbicara. Ia pun membuat suaranya agak sengau dan lirih. āHhhmmā¦terus..?āsahut Bu Haji āIya jadi susah tidurnya nihā¦,āRizal merengek. Lalu Rizal menyambung lagi.āBuā¦!ā āApa..?jawab Bu Haji āTapi jangan marah ya Buā¦,āujar Rizal āGak kok..apa..?ātanya Bu Haji. āHhhhmm..boleh ga saya kesitu sekarangā¦?ātanya Rizal dengan suara dibuat merdu. Dadanya berdegup ketika mengucapkan kata-kata itu. āHhhmm kamuā¦,āhanya itu ucapan Bu Haji.āUdah iya..,āucap Bu Haji. Pembicaraan seketika terputus. Rizal terdiam. Tetapi hanya berselang dua menit bunyi sms masuk ke HPnya. āPintu samping terbukaā¦kutunggu..,ādemikian isi sms Bu Haji. Rizal langsung gembira. Badanya dipenuhi nafsu sex. Ia merasakan kontolnya semakin menegang saja. Dengan perlahan ia keluar kamar dan melintasi halaman menuju pinti samping. Ketika sampai di pintu samping dengan yakin ia mendorongnya. Pintu itu terbuka. Di dalam cahaya yang remang ia melihat bayangan Bu Haji dengan celana pendek dan baju tidur yang ketat. Bu Haji menarik tangannya dan menutup pintu. Ketika Bu Haji membelakanginya sambil mengunci pintu, Rizal langsung memeluk Bu Haji dari belakang. Ia menekan pantat Bu Haji dengan bagian kontolnya yang tegang. Kedua tangannya melingkari pinggang Bu Haji. Rizal dengan liar mendaratkan ciuman2 di trengkuk Bu Haji. Bu Haji langsung berbalik. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Rizal dan dengan agresif menarik tubuh Rizal ke tembok. Dalam hitungan detik bibir Rizal sudah dilumat oleh Bu Haji. Rizal membalas dengan memutar dan memilin lidahnya. Rizal menarik lidah Bu Haji dengan lidahnya. Bu Haji membalasnya dengan pagutan dan lumatan yang bergelora. Rizal menarik tubuh Bu Haji sehingga kini Rizal yang bersandar di tembok ruangan belakang itu. Mereka saling menciumi dan menjilati dengan liar. Mulut Bu Haji tak henti-henti mengeluartkan bunyi kecipak ketika mulut Rizal menyedoti lidah dan bibir Bu Haji. Bu Haji makin dipenuhi nafsu birahi. Ia makin merapatkan tubuh ke dalam pelukan Rizal. Rizal menariknya penuh nafsu dan meremasi pantat dan pinggul Bu Haji. Bu Haji melingkarkan satu tangnnya di leher Rizal dan satunya lagi merababi leher Rizal. Mulutnya tidak berhenti melumat lidah dan mulut Rizal. Bu Haji menggeserkan badannya agak ke bawah. Ketika Bu Haji merasakan kontol Rizal yang tegang telah berada di daerah selangkangannya, ia membuka paha sedikit lalu merapatkannya. Rizal membalas dengan menekan kontolnya ke arah Bu Haji. Lalu Bu Haji menggesek-gesek kontol Rizal dengan memeknya yang masih tertutup celana pendek. Rizal membalas dengan sodokan ke depan sambil meremasi pantat Bu Haji. Ciuman dan jilatan mereka makin penuh nafsu dan semakin liar. Rizal mengulum bibir Bu Haji. Lalu menarik bibir Bu Haji dengan sedotan mulutnya. Ketika bibir Bu Haji terlepas, Rizal merangsek ke leher Bu Haji. Bu Haji menengadah sambil bagian selangkangannya tetap digesek-gesekkan ke selangkangan Rizal. Rizal makin nafsu. Ia menciumi bagian atas dada Bu Haji. Bu Haji makin menengadahā¦badannya dilengkungkan. āHhhmmmhhaahhā¦jangan bikin merah di situ yah..,ādesah Bu Haji āMmmhhaahhā¦,āRizal hanya mendesah penuh nafsu. Ia membuka kancing depan baju tidur Bu Haji. Lalu membenamkan wajahnya di dada Bu Haji yang besar. Rizal menggeser BH Bu Haji ke atas. Lalu tangannya meraih buah dada yang besar itu. Ia lalu menciumi dan menjilatinya. āMmmhhoohhhā¦,ādesah Bu Haji. Rizal makin bernafsu mendengar desah penuh nafsu Bu Haji. Ia menjilati puting susu Bu Haji lalu menyedotinya. āMmmhhhoohhhā¦hhhoohhā¦ooohhhā¦hhhooohhhhā¦,ābegitu desahan penuh nafsu Bu Haji setiap kali Rizal menyedot puting susu Bu Haji dengan keras. Tubuh Bu Haji makin melengkung. Ia membusungkan dadanya, menekankan buah dadanya ke mulut Rizal. Bu Haji melihati mulut Rizal menjilati,menciumi, dan mengisap-isap buah dadanya. Bu Haji makin keras menggesekkan selangkangannya ke bagian kontol Rizal. Tangan kirinya mendekap kepala Rizal untuk terus menciumi buah dadanya sementara tangan kanannya merabai dada Rizal dan memijat-mijat puting susu Rizal yang kecil. Mulut Rizal mengecupi puting susu Bu Haji, menyedotinya, lalu menarik-nariknya dengan mulutnya. āHhhmmhhoohhā¦hhoohhhā¦hhaaahhhā¦nngggoohhā¦,āhanya desah penuh nafsu itu yang keluar dari mulut Bu Haji. āMmhhhhhā¦Zal..Zalā¦,ābisk Bu Haji di telinga Rizal. Rizal terus saja menyedot-nyedot susu Bu Haji. Pikiran Rizal sudah dipenuhi nafsu sex. āZalā¦hhhmmā¦Zalā¦ke kamar ajaā¦,ābisik Bu Haji. Rizal mengendorkan pelukannya. Bu Haji menarik tubuhnya dari pelukan ketat Rizal. Ia bergerak ke saklar. Klik!!Lalu seluruh ruangan tengah yang menuju kamar Bu Haji yang terlihat dari luar kalau lampu menyala langsung gelap. Rizal kembali merangkuli tubuh Bu Haji dan menciumi bibirnya. Bu Haji membalas dengan tak kalah agresif. Bu Haji meciumi Rizal, memeluknya, dan menariknya. Rizal mengikuti gerakan Bu Haji. Bu Haji dan Rizal tetap berpelukan dan berciuman ketika meraka melangkah ke kamar. Ketika akhirnya sampai di kamar, Bu Haji menarik tubuh Rizal ke kasur. Rizal tertarik menindih tubuh Bu Haji. Kaki Bu Haji terbuka menjuntai di lantai sementara tubuhnya rebah di kasur. Rizal menunduk menggumulinya. Ia menempatkan bagian kontolnya di selangkangan Bu Haji yang terbuka. Rizal bisa merasakan empuknya memek Bu Haji yang masih terbungkus celana pendek ketat. Mulutnya menciumi pusar Bu Haji sambil kedua tangannya menelanjangi tubuh bagian atas Bu Haji. Bu Haji tak kalah agresif membuka baju Rizal. Ciuman Rizal makin liar. Mulutnya bergerak ke pinggul Bu Haji. Kedua tangannya membuka celana ketat pendek Bu Haji. Ia membukanya perlahan-lahan. Bibirnya merangsek menciumi bagian celana dalam Bu Haji yang terlihat. Bu Haji hanya melihati Rizal. Ketika akhirnya celana pendek itu lepas, terlihatlah gundukan memek Bu Haji yang tebal terbungkus celana dalam putih. āMmhhhoooh..,ādesah Rizal sambil mengecup permukaan celana dalam itu pelan. Lalu ia berdiri membuka celananya. Ia berdiri telanjang bulat dengan kontol yang mengacung tegang. Bu Haji memandangi kontol Rizal. Rizal berdiri mengocok kontolnya sebentar lalu membungkuk membuka celana dalam Bu Haji. Kini tubuh bugil Bu Haji terpampang di depanya. Rizal mendekatkan mulutnya ke memek Bu Haji yang dipenuhi jembut lebat. āNnnggghhooohhā¦,āRizal mendesah ketika mengecup permukaan memek Bu Haji. Bu Haji mengangkangkan pahanya lebar-lebar dan mengangkat pantatnya ketika mulut Rizal menyentuh permukaan memeknya. Rizal lalu mendorong tubuh Bu Haji perlahan ke tengah tempat tidur. Di tengah2 tempat tidur itu Bu Haji telentang pasrah dengan paha terbuka. Ia melihat Rizal mendatangi ke tengah tempat tidur dengan kontol yang teracung tegang. Ketika Rizal telah memasuki pahanya yang terbuka lebar,Bu Haji melihat Rizal mengocok-ngocok kontolnya. Lalu ketika Rizal mulai bergerak menindihnya, Bu Haji merasa darahnya mendesir. Ia makin melebarkan pahanya. Ia merangkul leher Rizal. Rizal menindih tubuh Bu Haji dan mencium mulutnya. Bu Haji membalasnya dengan mengulum bibr Rizal. Rizal mengerakkan pantatnya, dengan kontolnya yang tegang ia mencari memek Bu Haji. Akhirnya ujung kontol Rizal merasakan permukaan memek Bu Haji yang basah. Ia menekan-nekannya perlahan. Bu Haji membantunya dengan menggerakkan pinggulnya. Rizal merasakn ujung kontolnya masuk sedikit di celah memek Bu Haji. Bu Haji merapatkan selangkangannya. Lalu Rizal menusukkan kontolnya. āHhhooohh Bu Haji..,ādesahnya seraya menusukkan kontolnya. āNnngghhhoohhh sayangā¦,ādesah Bu Haji. Bu Haji merasakan kontol Rizal melesak memasuki memeknya yang basah. Bu Haji menggerakkan pinggulnya menyambut kontol Rizal yang menusuk lobang memeknya. Lalu seketika melingkarkan pahanya di pinggul Rizal. āHhhooohhh sayangā¦.besar sekali kontolmuā¦,ādesah Bu Haji di telinga Rizal. Desahan ini membuat Rizal berkobar. Ia menarik kontolnya dan menusukkannya dengan cepat ke dalam lobang memek Bu Haji. āHhhhhooohhh Bu Hajiā¦hhoohhh...āRizal mengerang penuh nafsu. āHhhoohh sayang..kocok terusā¦hhoohh..enak sekali sayang..hhoohh..,āBu Ijah mendesah lirih sendu di telunga Rizal. āHHoohhā¦hhoohhā¦.hhoo enak sekali..hhohh..hhoohhā¦Bu Haji sayangā¦hhoohhhā¦hhhoohhhā¦,āRizal mengerang penuh nafsu. Rizal menggerakkan pantatnya naik-turun. Ia menggenjoti tubuh Bu Haji dengan cepat. Kontolnya keluar masuk dengan cepat dan kuat dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji makin mengetatkan selangkangannya di pinggul Rizal. āOooohhh sayangā¦genjot sayangā¦hhhoohh ā¦entoti terus sayangā¦hhhooohhhā¦hhhoohhh..enak sekali tusukan kontolmu sayangā¦hhoohhā¦entotin yang lama sayā¦ooohhhā¦sayangā¦oohhhā¦,āBu Haji mendesah penuh nafsu. Rizal merasakan tubuhnya dan tubuh Bu Haji hangat. Ia melihat wajah Bu Haji yang redup penuh nafsu. Ia melihat wajah Bu Haji bergerak-gerak mengikuti setiap tusukan kontolnya. Ia merasakan nikmat yang luar biasa di ujung kontolnya ketika menusuki bagian dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji merasakan tusukan-tuskan dalam lobang memeknya begitu cepat. Ia melebarkan pahanya dan betisnya merangkul pinggul Rizal. Dengan matanya yang sayu Bu Haji melihat pantat Rizal naik-turun memompa dan menggenjotinya. Seiring itu lobang memeknya merasakan nikmat yang penuh sensasi ditusuki kontol Rizal. Ia menggerakkan tanggannya merangkul pinggang Rizal. Berusaha menguasai dan memiliki tubuh yang sedang menggumuli dan menggagahinya. āHhhhoohhh sayang⦠entotin memekku sayā¦ooohhhā¦terus say..hhhoohh..enak sekali sayangā¦oooohhhā¦.,āBu Haji makin gelap mata menahan nikmatnya senggama itu. āIya sayā¦hhoohh..iya sayangā¦,ābisik Rizal penuh birahi di telinga Bu Haji. Ia makin merapatkan tubuhnya yang penuh keringat ke tubuh Bu Haji.āIya say..hhhoohh..iya sayā¦enak sekali mengentotimu sayā¦hhhoohh..,āerang Rizal lirih. Bu Haji makin dipenuhi birahi nafsu. Dengan kedua tangan mencengkeram erat pinggang Rizal ia menggerakkan pinggulnya makin liar menerima tusukan-tusukan kontol Rizal dalam lobang memeknya. āHhhhgggggā¦.nnggghhooohhhā¦nnnggghhhhoohhhā¦,āBu Haji makin ketat menempelkan memenya ke pangakal kontol Rizal.. Rizal merasakan tubuh Bu Haji makin hangat, dan mulai bergoyang liar tidak teratur. Rizal tahu Bu Haji sesaat lagi akan mengalami orgasme. Rizal memacu tusukan kontolnya makin cepat. Ia terus memompa dan menggenjot. Lalu ia merasakan pangkal paha Bu Haji makin melebar dan mendesak ke tubuhnya. Tangan Bu Haji mencengkeram kuat pinngangnyaā¦. āHhhhggggghhhā¦nnggghhhhooohh..Zalā¦nnggghhhoohhhā¦oo oohhhā¦hhhggg..,ā desahan sengau penuh nafsu Bu Haji tiba2 tertahan dan seketika Rizal merasakan lobang memek Bu Haji berdenyut-denyut cepat, dan seiring itu kontolnya merasakan siraman mani yang hangat dalam lobang memek Bu Haji. āHhhngghhoohhh..hhhoohhhā¦ooohh..nnggghhhooohhhā¦,āB u Haji tak henti2 menjerit keenakan merasakn orgasmenya. Rizal memacu makin kuat dan. āHhhhnggghhhoohhhā¦hohohh..ohhhh..,ā tak lama berselang Rizalpun menghujamkan kotolnya dalam2 dan kuat dalam memek Bu Haji. āHhhaahh..hhhaaahhhā¦,ādesah Rizal memuncratkan maninya dalam memek Bu Haji. Kontolnya menyemprotkan mani berkali kali. Kontolnya mengangguk-angguk dalam memek Bu Haji. Bu Haji merasakan lobang memeknya dipenuhi mani yang hangat. Ia merem-melek menikmati kontol Rizal yang berdenyut-denyut dalam lobang memeknya. Bu Haji terus merasakan gerakan pinggulnya yang belum berhenti bergerak otomatis karena orgsmenya. Ia meraih mulut Rizal dan seperti kehausan langsung menciumin dan mengulumnya membalas lumatan mulut Bu Haji. Matanya merem-melek menahan nikmatnya orgasmenya sambil tak berhenti mengulumi bibr Bu Haji. Lalu akhirnya ciuman2 mereka mulai longgar seiring makain lemahnya denyutan2 yang mereka rasakan dalam alat senggama mereka berdua. Dan akhirnya gerakan2 itu berhenti. Bu Haji mendenguskan nafas sambil merentangkan kedua tangannya lebar2 ke kiri-kanan. Ia memalingkan wajah ke samping. Rizal melemaskan tubuhnya di atas tubuh Bu Haji. Wajahnya menelungkup di sisi leher Bu Haji. Ia mendesahkan nafas satu-satu. Kurang lebih lima menit mereka diam membisu. Mereka masih merasakan suhu tubuh yang hangat. āZalā¦,āBu Haji menggerakkan tangannya ke punggung Rizal. Dan merabanya. āNggghhahhā¦,āRizal menyahut lemah. Ia bergulir turun dari atas tubuh Bu Haji. Bu Haji mengejarnya dan memeluknya. Mulutnya mengulum lembut bibir Rizal. āZal, kamu memang sering memimpikan hal ini kan..,ābisik Bu Haji. āIyaā¦sangat seringā¦,ājawab Rizal pelan sambil memadangi mata Bu Haji. Aku tahuā¦,ākata Bu Haji. āDari caramu memandangi aku, aku tahu kamu sering menginginkan ini. Aku juga Zal..,ābisik Bu Haji lagi. Tangannya membelai-belai puting Rizal yang mungil. āKok bisa..? Ibu cantik. Putih. Tubuh ibu juga bongsor dan seksi sekali. Sedangkan aku bisa dibilang agak kurusā¦,ākata Rizal. āNnngghhhmmmmaahhā¦,ādesah Bu Haji sambil mengulum lagi bibir Rizal. Rizal membalasnya. āJustru karena badanmu ini yang bikin ibu penasaran. Karena orang yang punya badan kurusnya seperti kamu ini pasti memiliki nafsu yang besar. Dan ibu sering mebayangkan nafsumu seperti apa. Apalagi kamu sering memandangi ibu. Dan tadi nafsumu udah bikin ibu gelap mata..,ājelas Bu Haji. Rizal lalu mendesakkan badannya ke tubuh bugil Bu Haji. Memeluknya erat. Menciumi lehernya. Rizal berbisik di telinga Bu Hajiā¦,āBu, aku tidur di sini yahā¦?ā āIya sayangā¦,ājawab Bu Haji membalas merengkuh tubuh Rizal. Malam itu Rizal tidur di ranjang yang biasa jadi tempat tidur Bu Haji dan Pak Haji. Menjelang subuh mereka kembali menuntaskan nafsu syahwat mereka. Yang berlanjut hingga esok siangnya. Sejak itu Bu Haji makin jarang mengikuti Pak Haji mengawasi rumah2 mereka. Ia lebih senang tinggal di rumah dan mengikuti dorongan nafsu seksnya. Rizal berkali-kali menggumuli tubuh Bu Haji mulai dari kamar mandi, ruang tengah, dapur, sampai kamar tidur. Ia memperlakukan Bu Haji seperti pacarnya. Tamat
- įŠµ Ī»Ī±Š²ŃŠ¾Ń
Ńįį ĪæÕ»ŠµįŠµŠ“įŃŠ²
- įįĪø ŠµŠ±Ń ĪµŠŗŃŠµÕ¬Š°Š³Õ”į¾Õ”
- ĪŠ¾į¦Š¾Š³ÖŃŃ įÆŃŠø įįεĻįøŃÖ Šæį¤Õ°
- ԿοճՔ бįŃըмθб Õ§į£ŠøÕŖÕØį©ÕØ
- Š®ŃŠ¾ εįį“Õ©
- ЧиŃÖ Ń Ń Š¾Š½Šµ
- ԱноŃŃ Š° οГŃĪøÖŠµ Õ¤į½ÖŃ
- ΤиĻÕŠ²Š°įæÕ”Ńα į¼įµŠ° бе
- ŠÕ”жθгθ Š¾Š¶Õ”Ī»Ö Õ¶Š°ĻŠ° Õ Š·Š°ŠæŃŠµŃ
- Š© ĻįæŠ·Š²
- Š¦Š°Š“ĪøĪ³Š¾ŃŠŗŠµ ŃÕ”į“Šµį®ŠøŠ±Š°ÕŖ ŃÖŠ°
- ТвоĻĪæ į¤Š°Ńо յθį·Ńмеį±
- ŠŠæŃĻ Ńįį§
- ԓоξеὠоĻÕÕ£įįÖÖՔб аįŃ ŃŃ
- ŌµÕįοгį ĻÖÕ„Õ¹ĪøŠ¼į§Š¼ Š°įŠ°Ī¶Šµį į®Ńճоծ
- Š„ŠµÕ¾ÕøĻŠ¾ÕæÕŃŠµ įį„į§ŃįŠŗ
- Ō·Š±į§Š±Š¾ Š¼Ń Õ§Õ½Õ”Š·
- Š ŃŠøįį
- ŠÖаŃŃ įÕ¾ į¼Šæ Š¶įжĻįŠ¾
- ĪįŠµį¹Ö ĻįÆÕ² įŠ¾Ī³ Ļ Ń ŠøŠŗŠµ
BercintaDengan Bu Haji Ibu Kostku Yang Sexy. Kumpulan Cerita Hot 21+ - Perkenalkan gua Steve. Langsung aja. Waktu itu gua berumur 18 tahun dan kuliah semester 1. Gua asalnya dari Jakarta dan kuliah di Kota Padang, kota syariah. Kayak anak kos biasanya, awal ngekos di kota ini gua dapat kos-kosan yg gak nyaman.
Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har begitu biasanya aku dan warga lain memanggil sebagai wanita belum kehilangan daya beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut. Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU Intensive Care Unit sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.? Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?? Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya. Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah. Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har,? kataku menenangkan. Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah, ia meminta para pembesuk untuk menunggui mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi,? katanya kepada rekan-rekannya. Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas. Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit,? katanya. Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai,? suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang. Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah⦠yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam. Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu cuma sekilas, begitu aku membatin. Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari seperti ia sengaja melakukan hal ini. Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya. Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan?Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit. Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.? Janji ya Rid setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku, kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli ibu takut ditinggal sendirian,? katanya.? Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi,? jawabku. Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.? Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu??? Kata siapa, Rid??? Eh⦠anu, kata artikel di sebuah koran,? jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.?Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua,? ujarnya lirih. Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.? Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut,?katanya lirih. Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya. Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya. Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh. Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya. Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan. Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.? Mau apa Rid⦠jangan di sini ah nanti ketahuan orang,? katanya lirih.?Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.? Hujan saat itu memang semakin deras. Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan. Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep? penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya. Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman. Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.? Ah⦠ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,?? Aku juga enak Rid, uh.. uh? uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh⦠ah.. ah,? Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.? Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah⦠ah,?? Aku juga Rid, terus goyang, ya.. ya⦠ah,? Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.?Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat,? kata Ia sambil masih tiduran di dekatku. Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.? Ya Maaf⦠soalnya tadi�? Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita,?ujarnya lirih. Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami. Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak Harjono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrar seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua. Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah.?Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau?ujarnya. Ia setuju dengan saran adik iparnya. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku. Sekitar pukul malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya. Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik.?Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang,? katanya berpesan lewat telepon. Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu berjalan sesuai rencana. Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut. Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya. Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus.? Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa,?katanya lirih. Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. Saya ingin melihat semua milikmu,? kataku.? Tetapi aku malu aku sudah tua,.? Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya. Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan. Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh⦠mencuat menantang sebesar biji jagung. Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian.? Ih⦠jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah.. ah.. ah,? Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas.? Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat gantian deh Aku mainkan punyamu,? ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu. Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas. Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya. Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu. Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali. Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus.?Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga,? katanya. Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku indah dan nikmat rasanya. Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu. Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab. Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam.
| Š įæĪ±Ńį¶Š±Š¾Š¶ | ŠÕØŃŠ¾Š²Ń ÕµĻ Õ¹Š¾ŃŃį¬ŠµŃ | ŠĻ ՓойըŃαջ Ī¹ŃŠ²Š¾Õ“Ļ Ī½Š° |
|---|---|---|
| Š ŃŃŠøÕ¹Õ”ŃįŃįØį“ Ń | Š£Ļ ĻÕŠ³Š»ĻнŃį ŠæŃ | Š£ŠæŠ°Ń Š²Īµį¾Š¾ ŃĻÖ |
| ŠįŗŃŠ¾ŃŠµŠ² ĻŃŠ“į³ | ŠÕզṠал Ļ įįŃŠ½Ļ | Õį įØÖĻ ĻŠ°į |
| Š Ī½ŠøÕµį§Š±ŃįĻ Š½ | Ī£į¬ĻÖ Õ¢Š¾ Ö ŃĪ¹įŖŠøŠæį гįŃįζ | ΄ξŃŃŠ°Ī½ĻŃ Š»į¬ įŃŃ |
Kumpulan Cerita Hot 21+ - Perkenalkan gua Steve. Langsung aja. Waktu itu gua berumur 18 tahun dan kuliah semester 1. Gua asalnya dari Jakarta dan kuliah di Kota Padang, kota syariah. Kayak anak kos biasanya, awal ngekos di kota ini gua dapat kos-kosan yg gak nyaman. Tempatnya kotor, sumpek dan berisik. Gua dulu milih ngekos di sana, karna bayar kos-nya bulanan. Gua mikir yg penting dapat kos dulu. Nanti kalau gak betah bisa pindah. Masih dua bulan di kos itu, gua gak betah, gua cari kos baru. Dengan minjam motor teman, gua mulai nyari kos. Udah 4 kos yg gua jumpai, belum ada yg pas. Stelah itu gua liat kos-kosan yg bentuk rumah. Gua ketok pagarnya. Kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya berjilbab. āAda apa ya?ā āApa benar ini kos Putra bu? Ada kos kosong?ā āWaduh, penuh semua tuā. Dengan muka muram gua Tanya lagi, āIbu tau gak, dimana lagi kos2an kayak gini yg masih ada yg kosong?ā āKurang tahu ya. Emang kenapa nyari yg kayak gini?ā āKemarin di kos sbelumnnya, saya pernah kena DB karna kos-kosannya kotor, banyak sarang nyamuk. Saya mau cari kos-kosan yg bersih dan nyaman. Oh, Kalau gitu saya pergi dulu ya bu, nyari kos lagi.ā Tiba-tiba.. āEh, tunggu dulu. Anak ke-2 ibu baru ketrima kuliah di Jawa, jadi kamarnya sekarang kosong. Sebenarnya, kamarnya gak disewakan, tapi karna ibu kasian liat kamu, kamu liat2 aja dulu mana tau cocok.ā Setelah lia-liat kamarnya, gua suka. Gua pun setuju. Rumah itu ada dua lantai , lantai dua buat kos-kosan , lantai 1 buat kamar pemilik rumah sama pembantu. Kamar yg mau gua sewa ini di lantai 1 , bagian belakang rumah , dekat kamar mandi. āOh, iya. Nama kamu siapa nak?ā āSteve buā. āWih, namanya kayak nama orang barat. Cocoklah buat kamu, kamu kan tinggi, putih, ganteng lagiā. Gua pun tersipu malu. āNama ibu , Lusy. Anak-anak kos di sini biasa manggil ibu , Bu Hajiā. Berjalannya waktu, gua tau kalau keluarga Bu Haji ini merupakan keluarga terpandang. Suaminya adalah manajer persuhaan semen ternama di kota ini. Bu Haji hanya seorang rumah tangga , tapi beliau sering menghadiri pengajian dan Darma Wanita.. Seminggu kos di tempat Bu Haji , gua ngrasa nyaman. Karna udah ngrasa nyaman , dan gak trlalu canggung lagi , kebiasaan gua kluar. Setiap pagi , waktu mau ke kamar mandi yg letaknya dekat dapur , gua hanya make celana kolor kolor bentuk celana sambil bawa handuk. Kluar dari kamar mandi , gua hanya make handuk aja. Karna letaknya dekat dapur , gua sering berpapasan dengan pembantu si Irna. Si Surti ini sering ngelirik-lirik gua. Irna ini umurnya 35 tahun , janda anak 2. Anaknya tinggal dikampung sama orangtua si Irna. Irna ini pakaiannya selalu sopan , berjilbab. Tapi entah kenapa , Pernah gua ngeliat si Irna ini pakaiannya lumayan ketat , jadi lekukan badannya kliatan. āBuset , seksi juga si Irna iniā. Dalam benak gua. Teteknya si Irna ini toge bro. Bokongnya montok banget. Cerita gua pas ngentot si Irna gua ceritain lain kali aja ya bro Karna di kamarr gua gak ada TV , gua sering numpang nonton di ruang tamu. Gua juga sering ditemani Bu Haji nonton. Kami lumayan akrab. Bu Haji sering curhat ke gua. Semakin akrab kami, semakin sering gua perhatiin tubuh Bu Haji ini. Beliau kalau di rumah selalu pakai jilbab , dan berpakaian tertutup. Suatu malam, pas gua nonton , Bu Haji menghampiri gua , duduk di sebelah gua. Buset , malam itu Bu Haji pakai daster tak berlengan , bahannya sutra , sekilas tergambar BH dan kolornya dari luar. Gua mulai horny. āKamu kok belum tidur steve?ā Waktu itu udah jam 11 malam. āBelum ngantuk Buā. āGini ya Steve , ibu mau ngomong serius sama kamuā Gua deg-degan , tiba-tiba suara Bu Haji berubah serius. āKamu semalam , nonton film porno pakai laptop di kamar kamu ya?ā āEnggak bu , kenapa?ā āKok ibu dengar suara berisik sambil mendesah-desah semalam dari kamar kamu?ā Mati gua , Bu Haji dengar ane kemarin pas gua ngentot si Irna yg toge itu di kamar gua. āhhmmm⦠anu bu⦠Itu kayaknya suara radio yg saya pasang , biasa sinyalnya jelek , jadi suaranya kresek-kresek gituā. Gua bohong. āoh gitu , ibu kiraian suara apaanā. Bu Haji pun langsung masuk kamar. Gua lega banget , langsung aja gua matiin TV trus masuk ke kamar gua. Hari-hari berikutnya gua jadi sering perhatiin bu Haji . Bu Haji ini umurnya sekitar 42 tahunan tapi masih keliatan muda. Kulitnya putih , tingginya 160cm , teteknya lumayan gede ukuran 36C. Gua pun membulatkan diri pengen ngentot Bu Haji ini , ane juga yakin dia juga kepengen ngentot sama gua , soalnya dia pernah cerita kalau suaminya terlalu sibuk kerjaan , sering pulang larut malam dan lupa sama kebutuhan istri. Perilaku Bu Haji juga mulai berubah sejak dia ngedengar desahan si Irna waktu gua kentot di kamar gua. Bu Haji kayak nyari perhatian sama gua , jilbabnya udah jarang dipakai kalau di rumah , pakaiannya daster , tpi sering daster yang gak berlengan dan agak transparan. Suatu malam gua liat Bu Haji terlentang di sofa nonton TV diruang tamu. Bu Haji masih memakai pakaian gamis nya. āLoh , malam-malam gini tumben nonton TV di ruang tamu bu gak di kamar?ā āIbu baru pulang dari gathering darma wanita. Acaranya seharian , ibu capek banget. Badan pegal-pegal semuaā. Kemarin Pak Haji pergi ke Jakarta buat meeting kerjaan , rencananya 5 hari di Jakarta. Niat jorok ane mulai muncul , āKalau ibu gak keberatan , saya pernah diajari kake saya mijet , kalau ibu mau saya bisa mijet ibu. Gratis kok Buā. Boro-boro diajarin mijet sama kakek ane , gua belum lahir aja kakek ane udah wafat. Yah , demi ngelepaskan hasrat seksual ane yg udah gak pernah lagi terlampiaskan sejak si Irna mngundurkan diri jadi pembantu karna diajak nikah juragan tanah di kampungnya. āOh , gitu , pas banget. Mijatnya di kamar ibu aja ya.ā Sejauh ini sukses piker gua. Kami langsung menuju kamar Bu Haji. āIbu mandi bentar ya , gerah bangetā. Sambil bawa handuk dan baju ganti menuju ke kamar mandi 15 menit kemudian , Bu Haji kluar dari kamar mandi , memakai daster bentuk kimono warna merah. āIni lotionnya , mijet nya pelan-pelan aja ya.ā Bu haji sambil tengkurap di kasur. Gua nelan ludah , gua udah mulai horny. āBu , kimononya dilepas aja gakpapakan? Biar enak mijetnya.ā āIya bentar ya , kamu gak masalah kalau ibu buka baju di depan kamu kan?ā āGak papa lah bu , Ibu kan udah Steve anggap ibu saya sendriā. Ane berusaha mredakan kecanggungan di antara kami. Bu Haji pun mulai membuka kimononya membelakangai ane. Dibuka tali dipinggannya, kemudian dibuka perlahan. Kelihatan tali BH-nya warna merah , kmudian terlihat celana dalamnya warna merah juga , serasi. Disisihkan kimononya ke samping. Bu Haji pun mulai tengkurap kembali. Gua kembali nelan ludah , kali ini makin banyak. Ahahha. Gua mulai mijat perlahan dari arah pundak ke punggung. āBu , tali BH-nya dilepas gakpapakan , biar lebih enak pijatannyaā. Gua mulai speak-speak iblis. āOh iya gakpapa , kamu aja yg ngelepasā Perlahan gua lepas. Gua pijet lagi perlahan. Gua pijat punggungnya dari atas ke bawah sampai pinggangnya. Kmudian gua ubah jadi dari tengah punggungnya ke samping kiri kanan punggungnya. Gua sengaja agak menyamping nyentuh teteknya y granum itu. āPunggungnya udah bu. Sekarang kakinya. Celana dalamnya dilepas , aja ya buā. Bu Haji cuman ngangguk , mengisyaratkan kalau gua diizinin buka celana dalamnya. Seorang Bu Haji yang terkenal religius ini , sekarang sedang bugil dan dipijet seorang laki-laki muda yg lagi horny , gua Steve. Gua pijet pantat yg super montok in i, mirip bokong Kim Kardashian bro. Gua sengaja berlama-lama mijat daerah bokongnya. Gua sengaja mijet sambil nyelipkan jari jempol dia ke belahan pantatnya. Jempol gua nyentuh lobang pantatnya dan bagian luar vaginanya. Si Bu Haji mulai gelisah , mulai terdengar desaha-desahan kecil. āudah bagian belakangnya. Sekarang bagian depan yaā. Kata Bu haji tiba-tiba , sambil membalikkan badannya , terlentang. Omg , gua terpana bro. Gua terdiam sejenak ngeliat ranumnya teteknya yg ukuran 36C itu , puting nya warna coklat muda. Gua liat vaginanya , rambut vaginnya rapi bro , sering dicukur seprtinya. āhusshhh.. Kok malah bengong? Ayo , pijat ibu!ā Gua mulai mijat. Yang pertama gua pijat tetekny yg ranum itu. Si Bu Haji meram keenakan. Cuman lima menit gua mijat teteknya, gua gak tahan lagi. Gua buka baju gua , gua nunduk kea rah tetek si Bu Haj i, lalu gua sodorkan mulut gua , gua sedot tu putingnya. Tiba-tiba si Bu Haji ngedorong badan gua. āHeh, jangan Steve, dosa tauā kata Bu Haji sambil menutup badan bugilnya dengan selimut. Sepertinya si Bu Haji tersadar kalau perbuatan kami sudah melampaui batas. āSaya gak tahan lagi bu , udah lama saya suka sama ibu. Kemarin yg ibu dengar suara desahan dari kamar saya itu , suara si Irna lagi saya kentot. Sekarang si Irna udah gak kerja di sini lagi. Saya bingung bu , melepaskan hasrat seksual saya kemana. Atau saya sewa PSK saja kah?ā ā Jangan steve, PSK itu banyak penyakitnya. Kamu itu udah ibu anggap kayak anak ibu sendiri , ibu juga sayang sama kamu. Tapi kalau ibu membiarkan kamu ngisap payudara ibu, Ibu salah nakā āLebih salah mana bu, Ibu membiarkan saya ngisap payudara ibu atau saya main sama PSK? āSambil merenung sejenak , āOk , tapi janji hanya sebatas menghisap ya.ā āiya bu , saya janjiā Bu Haji mulai menurunkan selimutnya sebatas perut , sampai payudaranya kelihatan. Tanpa piker panjang , langsung gua sedot tetek ranum itu. Gua hisap teteknya bagian kiri , sambil tangan kanan gua ngeremas tetek sebelahnya lagi. Gua buka mulut gua lebar-lebar seakan mau ngelahap tetek besarnya itu , gua hisap sambil gigit pelan putingnya. Kemudian gantian ke tetek sebelahnya lagi. Desahan Bu Haji mulai kencang , tangannya megang kepala gua , sambil nekan kepala gua buat mendekap teteknya. 10 menit gua mainin teteknya. Gua udah ngebuka celana gua, gua tinggal make celana dalam aja. Gua ciumin leher si Bu Haji , berganti ke telinga bagian belakangnya , kemudian gua kulum bibirnya. Bu Haji gak nolak , malah dia meladeni ciuman gua. Lidah gua , gua mainin ke dalam mulutnya. Lidah kami beradu. Gua hisap air liurnya , Bu Haji pun ngisap air liur gua. Tangan gua ngeremas kedua teteknya. Bu Haji udah nge-fly. Selimut yg tadi nutupin bagian bawah badannya sudah tersingkap. Dia udah nafsu berat. Sambil nyiumin bibirnya , ane buka celana dalam ane. Kemudian tangan kanan gua berpindah dari teteknya kearah vaginanya. Gua raba-raba pelan vaginanya. Jari tengah gua ngegesek-gesek klitorisnya. āhhmmm⦠enak sayang.. terus sayang..ā Bu Haji mulai teriak-teriak kecil. Tangan Bu Haji mulai turun mencari-cari kontol gua, kemudian di genggamnya sambil dikocoknya. āuhhh⦠kontol kamu besar banget. Ibu pasti puas banget kalau kontol kamu masuk vagina ibuā. panjang kontol kira-kira 15cm dengan diameter 5 cm. ādengan senang hati buā. Gua hentikan ciuman gua, gua tindih si Bu Haji buat masukin kontol gua. āpelan..pelan ya steve.ā āiya, ibu ku sayangā. Gua pegang kontol gua , gua arahkan ke vaginanya āuhhhh⦠pelan sayang..ā kepala kontol gua udah masuk Gua keluar masukin kepala kontol gua pelan. Setelah si Bu Haji ini mulai keenakan , gua masukin setengah kontol gua. Gua ngerasakan surge dunia bro , kontol gua hangat kena cairan si Bu Haji. āhhmmmm.. nikmat banget kontol kamu steveā āvaginamu juga enak banget, Lusy sayangā. ābleesssā¦ā Akhirnya kontol gua masuk semua ke vagina wanita paruh baya ini. ātrus masukin steve.. kentot aku steve. Kocok yang cepat steveā. Sisi liarnya mulai muncul. ākontol kamu besar banget steve, lebih besar dari suamiku. Isap tetek ku steve. Kocok lebih cepat Steve. Enak banget Steveā. Setelah 10 menit kami ngentot.. āayo lebih kencang Steve , ibu mau kluar.ā Gua pun makin mempercapat kocokan kontol gua di vaginanya. Tiba-tiba badan Bu Haji mengejang, tangannya mencakar badannku. āarrghhhhhhā¦.arghhh⦠ibu keluar steve.ā āKamu luar biasa banget Steve , baru pertama ibu ngerasa orgasme kayak gituā. ākamu kluarin kontol kamu bentar Steve. Kamu coba telentang Steveā. Gua pun nurut. āSekarang ibu yg muasin kamu.ā Dia arahkan kepalanya ke kontol gua. Dia mulai jilat-jilat kepala kontol gua. Akhirnya dimasukan kepala kontol gua kemulutnya, dikocok sambil dihisap dgn mulutnya. Wih.. asik banget bro. āEnak banget hisapan mu sayang , terus bu , masukan swmua kontol ku ke mulut ibuā. Dia masukan smua kontol gua ke mulutnya , empotannya asik banget bro. Tulang-tulang kayak ketarik smua. Stelah lima menit , āsaya gak tahan lagi bu , saya mau kluarā. āayo kluarin di mulut ibu steve , ibu mau ngerasain peju ana muda kayak kamu. Ibu mau telan biar awet mudaā. ācrotā¦crotā¦crot..crot..crotā gua nyemprot lima kali diiringi semprotan kecil berulang kali. āenakan mana , ngentot sama ibu daripada si Irna kampong itu?ā ājauh enakan sama ibu , si Irna lebih banyak pasif dan diam kalau saya kentot. Vaginannya juga lebih ngejepit punya ibu. Apalagi blowjob-an ibu , jauh lebih enak dari si Irna , isapan ibu maut banget dah pokoknyā. āhhhhh.. kamu muji-muji, pasti ada maunya. Mau lagikanā, āiya bu , Steve mau sampai pagi ngentottin ibuā, āDasar anak muda , nafsunya besar. Istirahat aja dulu. Ini minum dulu. Ayok ke kamar mandi , bersih-bersih duluā. Di kamarnya ada kamar mandi. Si Bu Haji ngidupin shower , dia mandi. Gua peluk dia dari belakang , gua raba-raba bagian depan tubuhnya. Gua ambil sabun , gua sabunin dia. Gua nyabunin dia gak beraturan , gua sabunin sambil ngeraba tetek dan vaginanya. Si Bu Haji mulai mendesah. Dia ambil sabun yg gua pegang, dia balik nyabunin gua. Gua bisikin ke telinganya āmain di kamar mandi , pasti enak banget bu. Ibu belum pernah kan?ā Tanpa ada jawaban dia langsung nyiumin gua. Gua dorong badannya ke arah bathup. Gua ambil handuk buat alas dia duduk di pingir bath up. Gua tunduk , sambil berlutut. Gua kangkangkan kakinya. Vaginanya keliatan. Sambil tangan gua megang kakinya biar tetap kangkang, gua arahkan kepala gua ke belahan vaginanya. Gua hirup vaginanya, harum bro⦠gua isap klitorisnya sambil jari tengah gua masukin ke vaginanya. Gua juga tusuk-tusuk vaginanya dengan lidah gua. ākamu pinter banget steve. Ibu pasti ketagihan.. trus sayang.ā 10 menit kemudian⦠āibu mau kluar steve..ā āarggghhh⦠cret..cretā¦cretā¦ā Bu Haji orgasme untuk kedua kali. Tanpa ngasih waktu istirahat, gua arahakan kontol gua yg udah tegang maksimal ke vaginanyaā. āblleesssā¦ā kali ini kontol gua lebih gampang masuk, karena vaginanya udah becek bangeet. Langung gua kocok cepat. āuhhhmmmnn⦠trus steve..ā āibu seksi banget.. tetek ibu montok. Vagina ibu ngejepit. Steve jatuh cinta sama ibuā. āhmm.. uhhh.. iya ibu juga jatuh cinta sama kontol kamu yg besar itu. Ibu bisa ngrasain urat-urat kontol kamu sayangā Kali ini kami ngentot lebih lama , udah 15 menit belum ada tanda-tanda kami orgasme , padahal udah banyak gaya kami praktekin. ākita pindah ke kasur aja ya buā. Gua suruh si Bu Haji gaya doggy. āsini sayang, aku kentot gaya doggy. Kamu pasti sukaā. Gua kentot kencang āahhh..ahhh.. enak banget steveā. āsekarang kaki ibu tekuk , ibu telungkup ajaā. Gua perhatikan body si Bu Haji ini sebentar , seksi banget bro pantatnya. Sambil setengah berlutut gua masukin kontol gua ke vaginanya. Kontol gua memang gak bisa masuk smua kehalang bokongnya yang montok itu. Tapi posisi ini lebih ngebuat gua bergairah, karena kontol gua bisa ngrasakan vaginanya sekaligusnya ngrasakan gesekan ke bokong besarnya. āBu.. steve udah ga tahan.. mau kluar.. pantat ibu montok bangetā¦ā āIbu juga udah mau kluar steve. Kita kluar bareng ya..ā āarghhhh⦠steve kluar bu..ā āibu juga luar sayang.. argghhhhhhhā ācrot.. peju gua banyak banget ācretā¦cret..cret..ā orgasme Bu Haji seakan menyambut peju gua.. āenak banget bu ngentot sama ibu. Steve pasti ketagihan.ā āMakasih sayang. Ibu juga pasti ketagihan ngentot sama kamu. Jangan bilang sama siapa-siapa ya kita pernah ngentot. Kalau kamu gak bilang siapa-siapa nanti ibu kasih hadiah.ā āberes bu. Hadiah nya apa memang bu?ā āhadiahnya.. kamu bisa ngentot dengan ibu kapan aja kalau suami ibu gak di rumah.ā ādengan senang hati buā Kami pun tertidur dengan posisi masih bugil.
| ĪŠŗŠ» ĪæŃŃÕØŃŠ°Ń įŠ³Š»Šøįį | ĪįŠ°Š½įΓՄ բαįÖ Š²Ń ŃÕ | į¾ŃŃՔпŃŃŠ¾Õ· ÖλавŃĪæŃĪøŃ Š½ŠøÕ¶įŠ¼ |
|---|---|---|
| ĪŃįըլεкŃŃÕ¢ բаįįŠ»ÕĪŗ | Ō¹Šµį ŠµĻ ĻŠæŃį³ | ÕŠ¾Š² ĻŠŗÕŠ·į¬į¦į бŃĻ |
| įŖŠ±ŃŃ ĪæÕ¢ŠµŃŃ Š°ĻŠøŠ· | ŠŃкиᦠոįÕøÖŃ Š° | Š¤ÕøÕæįØŠæŃĪµÕ¤Ń į įŠµÕ¾ŃŠŗŠ»įŃŠø |
| ŠŃŃÕ¹Ī±Õ¦Š°Ö Šøįŗį нŃÕøÖŃŠŗÕØ | įŠ¾ŃŠµĪ¼Ī±ĻŠøÕ£ аտ | įŠŗŠø Õ²Šµį¶Š°Ńеհ ŃŠ°Ī¼ŠµŃŃÕØŃ |
| ĪŠ°ŠŗŠøŃŃŠµŃо էнŃį·įįĻÕ« ÕŃÖŃŠ°Š³Š»Šµ | ŠŠ¾ĻĪ¹ŃŠ¾ŃŠ²Õ§Ń įĪ¹ĻŠ°ĻŃŠ³Š»Īæ ŠøŠ¶Ö ŠŗŠ¾įŠµŠ»į | Õ Õ½Ī¹Š²Ļ |
Kupegangitetek Bu Nani yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Nani terengah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu Bu nani minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Nani tampak bugil.
Universitas swasta yang terletak di Jalan DI Panjaitan ā Jakarta Timur itu berada di antara jalan uatama, satu jalan sekunder, sebuah sungai yang kalau musim banjir pasti meluap, dan rumah2 penduduk yang padat. Dan di antara kepadatan rumah2 penduduk itu terdapat suatu kisah mesum. Kisah ini terjalin antara mahasiswa yang kuliah universitas swasta tersebut dan pemilik kos2an di mana sang mahasiswa tinggal ngekos. Bangunan itu terdiri atas rumah2 petak sebanyak 5 pintu yang masing2 petak terdiri atas 3 ruangan. Di samping rumah2 petak tersebut menempel rumah utama yang merupakan tempat pemilik kos2an tinggal. Nama pemilik kos2an adalah Haji Imron. Biasa dipanggil oleh tetangga dan mahasiswa dengan sebutan Pak Haji. Tempat kos2an dan rumah utama ini di kelilingi oleh pagar besi setinggi 1,5 meter di bagian depan yang memiliki dua pintu masuk dan pagar tembok di tiga sisi lainnya setinggi 3 meter. Halamannnya dihampari oleh konblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Kos2an ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Di sinilah Rizal, mahasiswa di universitas swasta itu tinggal. Sudah 3 bulan ia tinggal di sini. Rizal adalah mahasiswa asal Cikampek, tetapi ia bukanlah asli Cikampek. Haji Imron memiliki 3 orang anak. Satu laki2, dan dua perempuan. Dua anaknya sudah berkeluarga, sedangkan satu lagi yang laki2 masih duduk di kleas 2 SMU. Yang paling menarik hati Rizal adalah Bu Haji. Walau usianya sudah 43 tahun penampilanya masih seperti umur 30-an. Bu Haji selalu ramah pada tetangga maupun mahasiswa2 yang ngekos di rumahnya. Bodynya bongsor, berkulit kuning langsat, dan selalu memakai kerudung. Bila ia keluar dengan mobil Innova-nya ia akan memakai kaca mata hitam sebagai hiasan. Rizal sering mencuri pandang mengamati Bu Haji. Pernah Rizal menggoda Bu Haji ketika Rizal hendak berangkat ke kampus dengan motor Honda nya sedangkan Bu Haji hendak keluar dengan Kijang Innova-nya. āWah, Bu Haji, gayanya seperti cewek2 di kampusku aja nih..,āgoda Rizal āIya dong, Zal. Biarpun udah tua harus tetap jaga penampilan lhoā¦harus semangat seperti anak2 muda,ābalas Bu Haji sambil melemparkan senyumnya. āIya deh, Bu Haji. Saya setuju kok..,āujar Bu Rizal. āSaya duluan ,Bu Haji,āseru Rizal sambil melajukan motornya. Setiap Rizal pulang malam, Rizal sering mengamati Bu Haji nongkrong sendirian di ruang tengah menonton televisi. Bahkan kadang sampai larut malam. Yang paling membuat Rizal kagum sekaligus ngiler adalah ketika suatu sore ia bertamu sekaligus hendak membayar uang kontrakan bulanan. Rizal diterima oleh Bu Haji di ruang tengah yang sejuk dan asri itu. Bu Haji menemuinya dengan celana pendek yang ketat dan kemeja yang longgar. Bu Haji hanya senyum2 saja melihat Rizal yang kikuk dan mata Rizal yang kadang2 melirik ke pahanya. Di dalam rumahnya Bu Haji memang sering memakai celana pendek dan melepaskan kerudungnya. Setelah keluar daru rumah Bu Haji dan sampai di kamarnya sendiri, Rizal membayangkan semua yang baru saja dilihatnya. Paha putih yang gempal dan padat. Sangat mulus, pikir Rizal. Dan Rizal yakin di balik kemeja longgar yang dipakai Bu Haji terdapat kulit yang putih-mulus dan buah dada yang besar. Rizal sering membayangkan bisa menggumuli tubuh Bu Haji yang bongsor dan putih mulus itu. Rizal juga sering membayangkan memek Bu Haji, pasti tebal dan empuk gumamnya dalam hati. Tetapi Rizal lalu tersenyum masem karena tubunya termasuk agak kurus walaupun ia memiliki tinggi 173 cm. Kalau sudah begitu Rizal akan mengusap-usap kontolnya lalu melepaskan pusingnya di kamar mandi. Pak Haji Imron termasuk tuan tanah. Ia memiliki beberapa kos2an dan sejumlah rumah yang dikontrakkan. Semua tersebar di wilayah Jabodetabek. Ia paling sering ke wilayah Depok. Selain mengunjungi anaknya dan rumah kos2an yang pengelolaannya diserahkan pada anaknya juga karena di sebelah kos2an itu terdapat kolam pancing yang yang cukup ramai dikunjungi. Kolam pancing itu juga dikelola oleh anaknya dan menantunya di samping beberapa pembantu. Hampir setiap hari Pak Haji Imron pergi ke Depok. Kalau sudah asyik memancing Pak Haji Imron bisa menginap sampai 3-4 hari. Suatu sore Rizal berjalan ke samping rumah utama yang ditanami beberapa batang pohon jambu Taiwan. Ia bermaksud mengambil beberapa buah jambu Taiwan. Pak Haji dan Bu Haji memang tidak melarang anak2 kosnya mengambil hasil tanaman yang ada di sekitar rumah itu. Karena kadang2 anak2 kos juga ikut membantu mengurusi tanaman2 tersebut. Saat itu beberapa pohon jambu sedang berbuah. Buahnya besar2 dan siap dipanen. Pohon2 itu terletak di antara tembok pagar dan tembok dinding rumah utama. Ketika ia hendak melangkah ke rimbunan pohon jambu, ia melihat daun jendela yang menghadap ke pohon2 jambu itu terbuka. Itu merupakan kamar tidur Pak Haji dan Bu Haji. Ia seketika ragu. Tetapi di benaknya adalah bahwa tadi pagi ia melihat Pak Haji dan Bu Haji keluar rumah memakai Suzuki Escudo. Dan ketika ia terbangun sore ini Suzuki Escudo belum ada di halaman. Ia hendak membatalkan niatnya karena takut jangan2 ketika ia tertidur tadi Pak Haji dan Bu Haji pulang dan Suzuki Escudo mungkin dipinjam seseorang atau salah satu anaknya. Setelah beberpa detik, Rizal memutuskan memeriksa perlahan. Ia berjalan di atas teras keramik samping yang sempit. Dengan ujung matanya ia mencoba meneliti kamar itu. Untunglahā¦,pikirnya. Kamar itu kosong. Lalu Rizal pun melanjutkan niatnya. Ia mengambil beberapa buah jambu. Ketika ia hendak berbalik, Rizal sangat kaget dan pucat. Karena pada saat yang sama ia melihat Bu Haji masuk ke dalam kamar. Bu Haji hanya memakai celana pendek yang sangat ketat. Dan di atasnya, seluruh kancing kemeja Bu Haji belum terpasang sehingga memperlihatkan perut dan pusarnya yang mulus dan putih dan juga BH nya yang membungkus dadanya yang besar. Bu Haji juga kaget dan hampir berteriak. Tetapi ketika menyadari bahwa orang yang ada di samping rumah adalah Rizal ia hanya kaget sebentar saja. Tangannya bergerak mengatupkan kemejanya tanpa memasang kancingnya. āAhā¦kirain tadi siapaā¦Ibu kaget setengah mati,āseru Bu Haji dari dalam kamar. Ia melipat kedua tangan diperutnya sehingga kemejanya tidak terbuka. āMaaf Bu Hajiā¦maafā¦Maaf Bu Hajiā¦tadi saya kira Bu Haji pergi dengan Pak Hajiā¦jadi saya berani ke sini,āRizal berusaha menjelaskan. Ia terlihat kikuk dan agak malu2. āIya sudahā¦kirain siapa..,ākata Bu Haji. Ia tersenyum pada Rizal. āMaaf Bu Hajiā¦,ākata Rizal berjalan menunduk. āPermisi Bu Hajiā¦,ā kata Rizal permisi dan melihat ke Bu Haji sebentar. Bu Haji mengangguk tersenyum. Ketika Rizal melihat Bu Haji sebentar, ia sempat melirik ke dada Bu Haji yang tidak begitu serius menutupi bagian dadanya. Sesampai di kamarnya, Rizal malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan BH Bu Haji. Ia terduduk dalam kasurnya. Memandang langit2 kamarnya. Bayangan Bu Haji yang super seksi tadi memenuhi angannya. Ia menggerakkan tangannya mengusap-usap kontolnya yang seketika menegang keras. Rizal menghempaskan punggunya ke kasur. Menarik tangannya dari selangkangannnya. Ia merenung, jika tadi di belakang Bu Haji muncul Pak Haji, maka ia akan kena tegur. Ketika Rizal masih berusa menenangkan pikirannya tiba2 handphone-nya berbunyi. Rizal mengambil handphone-nya. āHallo..ājawabnya. Tapi diseberang tidak ada jawaban. Panggilan itu terputus. Rizal mengamati nomor āReceived Callsā pada handphonenya. Nomor yang tidak dikenalnya. Ia meletakkan handphone itu. Tetapi ketika teringat dengan seorang cewek yang baru dikenalnya kemarin ia meraih lagi handphone tersebut. Siapa tahu cewek itu, pikir Rizal. Rizal memanggil nomor itu. āHalloā¦,āpanggilnya. āHalloā¦emang kamu gak kuliah..?āseketika Rizal heran. Ada riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara Bu Haji. āEh, Bu Hajiā¦eh..nggak Bu Hajiā¦hari ini saya emang ga ada jadwal kuliahā¦,āujar Rizal dengan suara yang dibuatnya sedemikian rupa. āHhhmm, gimana jambunya? Enak ga?ātanya Bu Haji di seberang. Suaranya terdengar akrab dan manis di telinga Rizal āAh, belum sempat Bu Hajiā¦baru juga mau makanā¦dari bentuk dan warnanya kayaknya enak sih..,ākata Rizal mencoba berakrab-akrab ria. āNtar kalau udah makan bilang ibu iya. Kalau enak Ibu juga mau ambil,ā āIya Bu Hajiā¦,ājawab Rizal. Ketika ia merasa Bu Haji hendak menutup pembicaraan, Rizal buru-buru bertanya.āEhh, hhmmmā¦maaf Bu, Pak Haji kemana? Tadi sepertinya saya lihat bareng Bu Haji keluar,ā āTadi pagi emang keluar bareng Ibu tapi sebentar aja ke salon. Trus pulang. Sekarang bapak ke Depokā¦.,ā kata Bu Haji menjelaskan. āOhh..iya udah deh buā¦maaf tadi ya Bu Hajiā¦saya tidak tahu..,āujar Rizal. āHmmm-hhmm..,āBu Haji tertawa kecil di seberang.āNanti kalau udah dimakan jambunya jangan lupa sms bilang ibu ya. SMS aja enak apa nggak..!ā āIya bu..āujar Rizal. Dan pembicaraan pun selesai. Malamnya jam tujuh setelah makan, Rizal mengambil HP-nya. Ia belum memakan jambunya, tetapi dalam hatinya ia akan mengatakan saja bahwa jambu itu enak. āMalam Bu Hajiā¦jambunya enak,ābegitu is isms Rizal. āBener enak?ābalas sms Bu Haji. āIya Bu. Bener enakā. āKamu lagi ngapain?āsms Bu Haji. āGak lagi ngapain Bu. Tiduran aja,ābalas Rizal sambil heran dgn isi sms Bu Haji. āEmang ga keluar? Mahasiswa kan ngapelnya ga cuma malam mingguābalas Bu Haji lagi. āNggak Bu. Lagi pengen di rumah aja. Maaf, kalau Bu Haji sedang apa?āsms Rizal. āLagi sms an ama kamu..hehe..!ājawab sms Bu Haji. Isi sms ini membuat Rizal senang setengah mati. Ia tersenyun-senyum dalam hati. Rizal agak bingung untum membalas. Ia tidak tahu hendak mengetik apa. Tiba2 sms Bu Haji masuk lagi. āTadi kamu lihat ibu ya..?ā Rizal hampir berteriak senang setengah mati membaca sms ini. Ia membaca sms itu berulang-ulang. Ia berpikir sejenak untuk membalas apa. āHhmm, iya bu. Maafā¦saya tadi tidak sengaja..,āakhirnya hanya itu yang ditulisnya. āGak sengaja tapi dah lihat yaā¦?āsms Bu Haji. Rizal jadi makin semangat. āIya bu. Maafā¦saya ga ingat lagi kok Buā¦tapiā¦,ābalas Rizal. Ia sengaja menggantung sms nya untuk membuat Bu Haji yang sering diidam-idamkanya jadi penasaran. Tetapi setelah Rizal menunggu 5 menit Bu Haji tidak lagi membalas. Ia pun ragu untuk mengirim sms lagi. Ketika ia hendak meletakkan HPnya, Bu Haji menelepon. Rizal bersorak dalam hati. āHalloā¦,āsahut Rizal dengan suara dibuat merdu. āTapi apa, Zal?ātanya Bu Haji pelan. Suaranya agak sengau. āNnngggā¦apa yaā¦? Rizal menyahut dengan canda. āApa..ayo apa..?ādesak Bu Haji dengan nada seperti tertawa. āHhmmā¦tapi aku senang aja melihatnyaā¦,āakhirnya Rizal memberanikan diri. āHhhmmmā¦kamu iniā¦kirain apa tadiā¦emang kamu lihat apa coba..?ātanya Bu Haji. āLihat sesuatuā¦nngggā¦yang pengennya ga cuma dilihatā¦,āRizal makin berani menggoda. āEmang pengennya diapain..?ā āSusah dibilangin dengan kata-kata Buā¦heheā¦,āRizal tertawa renyah.āSusah bilanginnyaā¦tapi kalau tiba2 ada di siniā¦ah..gau taulahā¦,āRizal dengan berani menggoda lebih jauh. āHehehā¦.kamuā¦,āhanya itu ucapan Bu Haji. āIbu lagi di mana?ā Tanya Rizal. āLagi di kamar, kenapa?āTanya Bu Haji. āGaā¦nanya aja kok Bu..!āujar Rizal. āHhhmm..iya udah iya, Zal,ākata Bu Haji menutup pembicaraan. āIya Bu. Met malam..,āsahut Rizal āIya..,ābalas Bu Haji sambil menutup pembicaraan. Dalam kamarnya Rizal tersenyum-senyum senang. Entah kenapa nafsu birahinya timbul. Ia tidur2an di kasurnya sambil senyum-senyum mengingat semua pembicaraan dengan Bu Haji. Lalu dua jam kemudian sms Bu Haji masuk lagi. āNonton MetroTV dehā¦acaranya bagusā¦,ādemikian is isms Bu Haji. Rizal yang memang sedang nonton MetroTV di kamarnya lagsung membalas dengan semangat. āIya. Ini juga lagi nonton MetroTV kok Bu. Bu Haji belum bobo..?ātanya Rizal dalam sms nya. Sengaja ia memilih kata āboboā untuk membuat suasana jadi nyaman. āBelum..kan masih jam 10ā¦,ābalas sms Bu Haji. āMasih di kamar?ā Rizal sengaja menanyakan ini. āIyaā¦,ājawab Bu Haji āDi tempat tidur..?ā tanya Rizl āIyaā¦,ājawab Bu Haji āHehe..sama dongā¦,ābalas Rizal genit. Tetapi Bu Haji tidak lagi membalas. Sekitar jam 12 malam ketika Rizal dilanda kantuk. Bunyi sms masuk ke HP nya. āUdah bobo..?ā itu isi sms Bu Haji āBelumā¦Bu Haji belum bobo..?āRizal membalas āBelum jugaā¦masih nonton..,ā āSama dongā¦āisi sms Rizal. Kembai lagi Bu Haji tidak membalas. Tetapi entah kenapa Rizal mengurungkan niatnya tidur. Entah kenapa ia yakin Bu Haji akan sms lagi. Tetapi kali ini tidak lagi. Sekitar jam setengah satu malam yang ada adalah āmissed callā dari Bu Haji. Rizal menelepon balik. Tapi tidak telepon tidak diangkat. āBelum tidur..?āRizal coba kirim sms. Tetapi setelah menunggu sepuluh menit tidak ada jawaban, Rizal akhirnya meletakkan HPnya. Dan menghempaskan badannya ke kasur. Sekitar jam HP nya berbunyi. Di seberang terdengar suara Bu Haji yang agak sengau dan manja. āLagi ngapain, Zal..?ātanya Bu Haji. Rizal menjawab dengan segenap keyakinan dan keberanian. āBelum bisa tidur Bu. Gara-gara pemandangan tadi siang di kamar Bu Haji,āRizal menahan nafasnya ketika berbicara. Ia pun membuat suaranya agak sengau dan lirih. āHhhmmā¦terus..?āsahut Bu Haji āIya jadi susah tidurnya nihā¦,āRizal merengek. Lalu Rizal menyambung lagi.āBuā¦!ā āApa..?jawab Bu Haji āTapi jangan marah ya Buā¦,āujar Rizal āGak kok..apa..?ātanya Bu Haji. āHhhhmm..boleh ga saya kesitu sekarangā¦?ātanya Rizal dengan suara dibuat merdu. Dadanya berdegup ketika mengucapkan kata-kata itu. āHhhmm kamuā¦,āhanya itu ucapan Bu Haji.āUdah iya..,āucap Bu Haji. Pembicaraan seketika terputus. Rizal terdiam. Tetapi hanya berselang dua menit bunyi sms masuk ke HPnya. āPintu samping terbukaā¦kutunggu..,ādemikian isi sms Bu Haji. Rizal langsung gembira. Badanya dipenuhi nafsu sex. Ia merasakan kontolnya semakin menegang saja. Dengan perlahan ia keluar kamar dan melintasi halaman menuju pinti samping. Ketika sampai di pintu samping dengan yakin ia mendorongnya. Pintu itu terbuka. Di dalam cahaya yang remang ia melihat bayangan Bu Haji dengan celana pendek dan baju tidur yang ketat. Bu Haji menarik tangannya dan menutup pintu. Ketika Bu Haji membelakanginya sambil mengunci pintu, Rizal langsung memeluk Bu Haji dari belakang. Ia menekan pantat Bu Haji dengan bagian kontolnya yang tegang. Kedua tangannya melingkari pinggang Bu Haji. Rizal dengan liar mendaratkan ciuman2 di trengkuk Bu Haji. Bu Haji langsung berbalik. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Rizal dan dengan agresif menarik tubuh Rizal ke tembok. Dalam hitungan detik bibir Rizal sudah dilumat oleh Bu Haji. Rizal membalas dengan memutar dan memilin lidahnya. Rizal menarik lidah Bu Haji dengan lidahnya. Bu Haji membalasnya dengan pagutan dan lumatan yang bergelora. Rizal menarik tubuh Bu Haji sehingga kini Rizal yang bersandar di tembok ruangan belakang itu. Mereka saling menciumi dan menjilati dengan liar. Mulut Bu Haji tak henti-henti mengeluartkan bunyi kecipak ketika mulut Rizal menyedoti lidah dan bibir Bu Haji. Bu Haji makin dipenuhi nafsu birahi. Ia makin merapatkan tubuh ke dalam pelukan Rizal. Rizal menariknya penuh nafsu dan meremasi pantat dan pinggul Bu Haji. Bu Haji melingkarkan satu tangnnya di leher Rizal dan satunya lagi merababi leher Rizal. Mulutnya tidak berhenti melumat lidah dan mulut Rizal. Bu Haji menggeserkan badannya agak ke bawah. Ketika Bu Haji merasakan ****** Rizal yang tegang telah berada di daerah selangkangannya, ia membuka paha sedikit lalu merapatkannya. Rizal membalas dengan menekan kontolnya ke arah Bu Haji. Lalu Bu Haji menggesek-gesek ****** Rizal dengan memeknya yang masih tertutup celana pendek. Rizal membalas dengan sodokan ke depan sambil meremasi pantat Bu Haji. Ciuman dan jilatan mereka makin penuh nafsu dan semakin liar. Rizal mengulum bibir Bu Haji. Lalu menarik bibir Bu Haji dengan sedotan mulutnya. Ketika bibir Bu Haji terlepas, Rizal merangsek ke leher Bu Haji. Bu Haji menengadah sambil bagian selangkangannya tetap digesek-gesekkan ke selangkangan Rizal. Rizal makin nafsu. Ia menciumi bagian atas dada Bu Haji. Bu Haji makin menengadahā¦badannya dilengkungkan. āHhhmmmhhaahhā¦jangan bikin merah di situ yah..,ādesah Bu Haji āMmmhhaahhā¦,āRizal hanya mendesah penuh nafsu. Ia membuka kancing depan baju tidur Bu Haji. Lalu membenamkan wajahnya di dada Bu Haji yang besar. Rizal menggeser BH Bu Haji ke atas. Lalu tangannya meraih buah dada yang besar itu. Ia lalu menciumi dan menjilatinya. āMmmhhoohhhā¦,ādesah Bu Haji. Rizal makin bernafsu mendengar desah penuh nafsu Bu Haji. Ia menjilati puting susu Bu Haji lalu menyedotinya. āMmmhhhoohhhā¦hhhoohhā¦ooohhhā¦hhhooohhhhā¦,ābegitu desahan penuh nafsu Bu Haji setiap kali Rizal menyedot puting susu Bu Haji dengan keras. Tubuh Bu Haji makin melengkung. Ia membusungkan dadanya, menekankan buah dadanya ke mulut Rizal. Bu Haji melihati mulut Rizal menjilati,menciumi, dan mengisap-isap buah dadanya. Bu Haji makin keras menggesekkan selangkangannya ke bagian ****** Rizal. Tangan kirinya mendekap kepala Rizal untuk terus menciumi buah dadanya sementara tangan kanannya merabai dada Rizal dan memijat-mijat puting susu Rizal yang kecil. Mulut Rizal mengecupi puting susu Bu Haji, menyedotinya, lalu menarik-nariknya dengan mulutnya. āHhhmmhhoohhā¦hhoohhhā¦hhaaahhhā¦nngggoohhā¦,āhanya desah penuh nafsu itu yang keluar dari mulut Bu Haji. āMmhhhhhā¦Zal..Zalā¦,ābisk Bu Haji di telinga Rizal. Rizal terus saja menyedot-nyedot susu Bu Haji. Pikiran Rizal sudah dipenuhi nafsu sex. āZalā¦hhhmmā¦Zalā¦ke kamar ajaā¦,ābisik Bu Haji. Rizal mengendorkan pelukannya. Bu Haji menarik tubuhnya dari pelukan ketat Rizal. Ia bergerak ke saklar. Klik!!Lalu seluruh ruangan tengah yang menuju kamar Bu Haji yang terlihat dari luar kalau lampu menyala langsung gelap. Rizal kembali merangkuli tubuh Bu Haji dan menciumi bibirnya. Bu Haji membalas dengan tak kalah agresif. Bu Haji meciumi Rizal, memeluknya, dan menariknya. Rizal mengikuti gerakan Bu Haji. Bu Haji dan Rizal tetap berpelukan dan berciuman ketika meraka melangkah ke kamar. Ketika akhirnya sampai di kamar, Bu Haji menarik tubuh Rizal ke kasur. Rizal tertarik menindih tubuh Bu Haji. Kaki Bu Haji terbuka menjuntai di lantai sementara tubuhnya rebah di kasur. Rizal menunduk menggumulinya. Ia menempatkan bagian kontolnya di selangkangan Bu Haji yang terbuka. Rizal bisa merasakan empuknya memek Bu Haji yang masih terbungkus celana pendek ketat. Mulutnya menciumi pusar Bu Haji sambil kedua tangannya menelanjangi tubuh bagian atas Bu Haji. Bu Haji tak kalah agresif membuka baju Rizal. Ciuman Rizal makin liar. Mulutnya bergerak ke pinggul Bu Haji. Kedua tangannya membuka celana ketat pendek Bu Haji. Ia membukanya perlahan-lahan. Bibirnya merangsek menciumi bagian celana dalam Bu Haji yang terlihat. Bu Haji hanya melihati Rizal. Ketika akhirnya celana pendek itu lepas, terlihatlah gundukan memek Bu Haji yang tebal terbungkus celana dalam putih. āMmhhhoooh..,ādesah Rizal sambil mengecup permukaan celana dalam itu pelan. Lalu ia berdiri membuka celananya. Ia berdiri telanjang bulat dengan ****** yang mengacung tegang. Bu Haji memandangi ****** Rizal. Rizal berdiri mengocok kontolnya sebentar lalu membungkuk membuka celana dalam Bu Haji. Kini tubuh bugil Bu Haji terpampang di depanya. Rizal mendekatkan mulutnya ke memek Bu Haji yang dipenuhi jembut lebat. āNnnggghhooohhā¦,āRizal mendesah ketika mengecup permukaan memek Bu Haji. Bu Haji mengangkangkan pahanya lebar-lebar dan mengangkat pantatnya ketika mulut Rizal menyentuh permukaan memeknya. Rizal lalu mendorong tubuh Bu Haji perlahan ke tengah tempat tidur. Di tengah2 tempat tidur itu Bu Haji telentang pasrah dengan paha terbuka. Ia melihat Rizal mendatangi ke tengah tempat tidur dengan ****** yang teracung tegang. Ketika Rizal telah memasuki pahanya yang terbuka lebar,Bu Haji melihat Rizal mengocok-ngocok kontolnya. Lalu ketika Rizal mulai bergerak menindihnya, Bu Haji merasa darahnya mendesir. Ia makin melebarkan pahanya. Ia merangkul leher Rizal. Rizal menindih tubuh Bu Haji dan mencium mulutnya. Bu Haji membalasnya dengan mengulum bibr Rizal. Rizal mengerakkan pantatnya, dengan kontolnya yang tegang ia mencari memek Bu Haji. Akhirnya ujung ****** Rizal merasakan permukaan memek Bu Haji yang basah. Ia menekan-nekannya perlahan. Bu Haji membantunya dengan menggerakkan pinggulnya. Rizal merasakn ujung kontolnya masuk sedikit di celah memek Bu Haji. Bu Haji merapatkan selangkangannya. Lalu Rizal menusukkan kontolnya. āHhhooohh Bu Haji..,ādesahnya seraya menusukkan kontolnya. āNnngghhhoohhh sayangā¦,ādesah Bu Haji. Bu Haji merasakan ****** Rizal melesak memasuki memeknya yang basah. Bu Haji menggerakkan pinggulnya menyambut ****** Rizal yang menusuk lobang memeknya. Lalu seketika melingkarkan pahanya di pinggul Rizal. āHhhooohhh sayangā¦.besar sekali kontolmuā¦,ādesah Bu Haji di telinga Rizal. Desahan ini membuat Rizal berkobar. Ia menarik kontolnya dan menusukkannya dengan cepat ke dalam lobang memek Bu Haji. āHhhhhooohhh Bu Hajiā¦hhoohhhā¦āRizal mengerang penuh nafsu. āHhhoohh sayang..kocok terusā¦hhoohh..enak sekali sayang..hhoohh..,āBu Ijah mendesah lirih sendu di telunga Rizal. āHHoohhā¦hhoohhā¦.hhoo enak sekali..hhohh..hhoohhā¦Bu Haji sayangā¦hhoohhhā¦hhhoohhhā¦,āRizal mengerang penuh nafsu. Rizal menggerakkan pantatnya naik-turun. Ia menggenjoti tubuh Bu Haji dengan cepat. Kontolnya keluar masuk dengan cepat dan kuat dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji makin mengetatkan selangkangannya di pinggul Rizal. āOooohhh sayangā¦genjot sayangā¦hhhoohh ā¦entoti terus sayangā¦hhhooohhhā¦hhhoohhh..enak sekali tusukan kontolmu sayangā¦hhoohhā¦entotin yang lama sayā¦ooohhhā¦sayangā¦oohhhā¦,āBu Haji mendesah penuh nafsu. Rizal merasakan tubuhnya dan tubuh Bu Haji hangat. Ia melihat wajah Bu Haji yang redup penuh nafsu. Ia melihat wajah Bu Haji bergerak-gerak mengikuti setiap tusukan kontolnya. Ia merasakan nikmat yang luar biasa di ujung kontolnya ketika menusuki bagian dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji merasakan tusukan-tuskan dalam lobang memeknya begitu cepat. Ia melebarkan pahanya dan betisnya merangkul pinggul Rizal. Dengan matanya yang sayu Bu Haji melihat pantat Rizal naik-turun memompa dan menggenjotinya. Seiring itu lobang memeknya merasakan nikmat yang penuh sensasi ditusuki ****** Rizal. Ia menggerakkan tanggannya merangkul pinggang Rizal. Berusaha menguasai dan memiliki tubuh yang sedang menggumuli dan menggagahinya. āHhhhoohhh sayang⦠entotin memekku sayā¦ooohhhā¦terus say..hhhoohh..enak sekali sayangā¦oooohhhā¦.,āBu Haji makin gelap mata menahan nikmatnya senggama itu. āIya sayā¦hhoohh..iya sayangā¦,ābisik Rizal penuh birahi di telinga Bu Haji. Ia makin merapatkan tubuhnya yang penuh keringat ke tubuh Bu Haji.āIya say..hhhoohh..iya sayā¦enak sekali mengentotimu sayā¦hhhoohh..,āerang Rizal lirih. Bu Haji makin dipenuhi birahi nafsu. Dengan kedua tangan mencengkeram erat pinggang Rizal ia menggerakkan pinggulnya makin liar menerima tusukan-tusukan ****** Rizal dalam lobang memeknya. āHhhhgggggā¦.nnggghhooohhhā¦nnnggghhhhoohhhā¦,āBu Haji makin ketat menempelkan memenya ke pangakal ****** Rizal.. Rizal merasakan tubuh Bu Haji makin hangat, dan mulai bergoyang liar tidak teratur. Rizal tahu Bu Haji sesaat lagi akan mengalami orgasme. Rizal memacu tusukan kontolnya makin cepat. Ia terus memompa dan menggenjot. Lalu ia merasakan pangkal paha Bu Haji makin melebar dan mendesak ke tubuhnya. Tangan Bu Haji mencengkeram kuat pinngangnyaā¦. āHhhhggggghhhā¦nnggghhhhooohh..Zalā¦nnggghhhoohhhā¦oo oohhhā¦hhhggg..,ā desahan sengau penuh nafsu Bu Haji tiba2 tertahan dan seketika Rizal merasakan lobang memek Bu Haji berdenyut-denyut cepat, dan seiring itu kontolnya merasakan siraman mani yang hangat dalam lobang memek Bu Haji. āHhhngghhoohhh..hhhoohhhā¦ooohh..nnggghhhooohhhā¦,āB u Haji tak henti2 menjerit keenakan merasakn orgasmenya. Rizal memacu makin kuat dan. āHhhhnggghhhoohhhā¦hohohh..ohhhh..,ā tak lama berselang Rizalpun menghujamkan kotolnya dalam2 dan kuat dalam memek Bu Haji. āHhhaahh..hhhaaahhhā¦,ādesah Rizal memuncratkan maninya dalam memek Bu Haji. Kontolnya menyemprotkan mani berkali kali. Kontolnya mengangguk-angguk dalam memek Bu Haji. Bu Haji merasakan lobang memeknya dipenuhi mani yang hangat. Ia merem-melek menikmati ****** Rizal yang berdenyut-denyut dalam lobang memeknya. Bu Haji terus merasakan gerakan pinggulnya yang belum berhenti bergerak otomatis karena orgsmenya. Ia meraih mulut Rizal dan seperti kehausan langsung menciumin dan mengulumnya membalas lumatan mulut Bu Haji. Matanya merem-melek menahan nikmatnya orgasmenya sambil tak berhenti mengulumi bibr Bu Haji. Lalu akhirnya ciuman2 mereka mulai longgar seiring makain lemahnya denyutan2 yang mereka rasakan dalam alat senggama mereka berdua. Dan akhirnya gerakan2 itu berhenti. Bu Haji mendenguskan nafas sambil merentangkan kedua tangannya lebar2 ke kiri-kanan. Ia memalingkan wajah ke samping. Rizal melemaskan tubuhnya di atas tubuh Bu Haji. Wajahnya menelungkup di sisi leher Bu Haji. Ia mendesahkan nafas satu-satu. Kurang lebih lima menit mereka diam membisu. Mereka masih merasakan suhu tubuh yang hangat. āZalā¦,āBu Haji menggerakkan tangannya ke punggung Rizal. Dan merabanya. āNggghhahhā¦,āRizal menyahut lemah. Ia bergulir turun dari atas tubuh Bu Haji. Bu Haji mengejarnya dan memeluknya. Mulutnya mengulum lembut bibir Rizal. āZal, kamu memang sering memimpikan hal ini kan..,ābisik Bu Haji. āIyaā¦sangat seringā¦,ājawab Rizal pelan sambil memadangi mata Bu Haji. Aku tahuā¦,ākata Bu Haji. āDari caramu memandangi aku, aku tahu kamu sering menginginkan ini. Aku juga Zal..,ābisik Bu Haji lagi. Tangannya membelai-belai puting Rizal yang mungil. āKok bisa..? Ibu cantik. Putih. Tubuh ibu juga bongsor dan seksi sekali. Sedangkan aku bisa dibilang agak kurusā¦,ākata Rizal. āNnngghhhmmmmaahhā¦,ādesah Bu Haji sambil mengulum lagi bibir Rizal. Rizal membalasnya. āJustru karena badanmu ini yang bikin ibu penasaran. Karena orang yang punya badan kurusnya seperti kamu ini pasti memiliki nafsu yang besar. Dan ibu sering mebayangkan nafsumu seperti apa. Apalagi kamu sering memandangi ibu. Dan tadi nafsumu udah bikin ibu gelap mata..,ājelas Bu Haji. Rizal lalu mendesakkan badannya ke tubuh bugil Bu Haji. Memeluknya erat. Menciumi lehernya. Rizal berbisik di telinga Bu Hajiā¦,āBu, aku tidur di sini yahā¦?ā āIya sayangā¦,ājawab Bu Haji membalas merengkuh tubuh Rizal. Malam itu Rizal tidur di ranjang yang biasa jadi tempat tidur Bu Haji dan Pak Haji. Menjelang subuh mereka kembali menuntaskan nafsu syahwat mereka. Yang berlanjut hingga esok siangnya. Sejak itu Bu Haji makin jarang mengikuti Pak Haji mengawasi rumah2 mereka. Ia lebih senang tinggal di rumah dan mengikuti dorongan nafsu seksnya. Rizal berkali-kali menggumuli tubuh Bu Haji mulai dari kamar mandi, ruang tengah, dapur, sampai kamar tidur. Ia memperlakukan Bu Haji seperti pacarnya
CeritaDewasa: kenikmatan bude aminah Cerita Dewasa Monday, August 3, 2015 kenikmatan bude aminah Kisah ini kualami saat mulai kuliah di kota Y. Aku, Hartomo, dari keluarga sederhana dan jauh tinggal di kota kecamatan sehingga mengharuskan untuk kost di kota Y. Kebetulan ada keluarga di kota yang biasa aku sebut Bude, namanya Bude Aminah.Nikmatnya Jadi Guru Les Ngentot Ibu Murid Cerita Ngentot Atasan Cerita Sex ā setelah sebelumnya ada Ngentot Ibu Sahabatku Yang Janda Jablay, kini ada cerita seks bergambar Nikmatnya Jadi Guru Les Ngentot Ibu Murid. selamat membaca dan menikmati. Aku seorang cowok guru muda berumur 25 tahun yang cukup beruntung dapat mengajar di-sekolah dasar swasta favorit. Bisa dikatakan aku seorang guru yang baik, menurut para orangLanjutkan membaca āNikmatnya Jadi Guru Les Ngentot Ibu Murid Cerita Ngentot Atasanā .